Ramadhan...Bulan Pendidikan Ruhaniah

>> Jumat, 13 Mei 2011

Ramadhan mengantarkan kita lebih dekat kepada Allah. Dengan puasa kita menjadi orang yang paling dicintai Allah. Puasa melatih kita meninggalkan sikap egois kita dan bukan memperkuatnya. Puasa dengan penuh keimanan dan pengharapan, dapat memenuhi kebutuhan spiritual kita.

Sebuah penelitian di Barat menyebutkan bahwa orang yang berpuasa akan lebih tajam pikirannya sehingga mampu menangkap pesan-pesan moral wahyu Ilahi. Orang dewasa adalah orang yang selalu berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan ruhaniahnya, bukan kebutuhan-kebutuhan jasmaniahnya. Itulah orang yang sudah sangat dewasa.

Read more...

Ramadhan...Membuka Lembaran Baru Yang Putih Bersinar...

Ramadhan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dan membuka lembaran baru dalam kehidupan ini...Lembaran yang putih, bersih, jernih, bening, bersinar dan bercahaya...

Bersama Allah...Dengan Taubatan Nasuha dan memperbanyak amal saleh yang ikhlas serta kaaffah (total) dalam berIslam...
Bersama Rasulullah -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam...Dengan semakin berpegang teguh kepada Sunnah Beliau...

Bersama Kedua Orang Tua, Suami, Isteri, Anak-Anak, Karib Kerabat dan Sanak Famili...Dengan menyambung tali silaturrahmi dan berbuat baik kepada mereka...
Bersama Sesama...Dengan menjadikan hidup semakin bermanfaat...

Rasulullah -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam bersabda: "Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain." (Hadis Sahih).

Read more...

Puasa Mempersempit Ruang Gerak Syetan

Lapar dan haus akan mempersempit aliran darah sehingga menjadi sempit pula ruang gerak syetan di tubuh kita karena syetan mengalir di tubuh kita seperti atau bersama aliran darah sebagaimana hal ini telah disabdakan oleh Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dalam hadis sahih Bukhari dan Muslim.


Oleh karena ini pula Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Wahai sekalian pemuda! Siapa yang telah mampu untuk menikah diantara kalian maka hendaklah menikah, karena (pernikahan itu) lebih menjaga pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan. Barang siapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa (shaum), karena hal itu bisa mengurangi syahwat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam hadis tersebut Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam menjadikan berpuasa sebagai sarana untuk mengurangi dan menghancurkan nafsu syahwat.
Inilah rahasia mengapa orang yang berpuasa mudah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Read more...

MENYAMBUT DAN MEMPERSIAPKAN HARI JUM’AT

>> Rabu, 27 April 2011

Allah Ta'aala Berfirman:
"Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."
(Surat 62 Al-Jumu'ah / Hari Jum'at Ayat 9)

Keistimewaan dan Adab Hari Jum’at:

- Hari Jum’at adalah hari paling afdhal dan merupakan hari raya kaum muslimin.
- Allah mengabadikan hari Jum'at dengan memberikan nama pada salah satu surat dalam Al-Qur'an dengan nama surat Al-Jumu'ah.
- Pada shalat Subuh hari Jum’at disunnahkan membaca surat As-Sajdah pada raka’at pertama setelah Al-Fatihah dan surat Al-Insaan pada raka’at kedua setelah Al-Fatihah.
- Nabi Adam –Alaihis Salam diciptakan, dimasukkan dan dikeluarkan dari surga serta diwafatkan pada hari Jum’at.
- Kiamat terjadi pada hari Jum’at.
- Pada hari Jum’at terdapat saat yang mustajab, yaitu doa yang dipanjatkan bertepatan dengan saat itu pasti dikabulkan oleh Allah Ta'aala.
- Memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam pada hari Jum’at dan malam Jum'at.
- Mandi untuk shalat Jum’at.
- Membersihkan diri dengan memotong kumis, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan dan memotong kuku pada hari Jum’at.
- Memakai pakaian terbaik dan parfum untuk shalat Jum’at.
- Dilarang melewati atau melangkahi pundak orang lain dalam masjid karena hal itu termasuk gangguan.
- Segera pergi ke masjid untuk shalat Jum’at dan tidak mengakhirkannya karena Malaikat berada di pintu-pintu masjid untuk mencatat orang-orang yang datang terlebih dahulu hingga khatib naik mimbar.
- Memperbanyak shalat sunnah sambil menunggu khatib naik mimbar.
- Diam dan mendengarkan khotbah.
- Membaca surat Al-Kahfi.
- Allah mengunci mati hati orang-orang yang meninggalkan shalat Jum'at tanpa udzur syar'i dan menjadikan mereka termasuk orang-orang yang lalai.


Tata Cara Khotbah Jum’at:

Khutbah Jum’at ada dua kali dipisahkan dengan duduk diantara keduanya.

Hendaklah Khotbah Jum’at Meliputi Beberapa Perkara Sebagai Berikut:

- Pujian-pujian kepada Allah dan membaca dua kalimat syahadat.
- Shalawat kepada Rasulullah Muhammad –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam.
- Wasiat untuk bertakwa.
- Membaca ayat Al-Qur’an.
- Memberikan nasehat.
- Berdoa untuk kaum muslimin.

Pesan-Pesan Untuk Khatib:

- Niat yang ikhlas.
- Mengenal situasi dan kondisi mad'u (audiens).
- Persiapan yang matang.
- Khotbah tersusun rapi, teratur dan fokus.
- Khotbah tidak terlalu panjang yang membosankan.
- Penampilan yang baik.
- Bahasa tubuh dan ekspresi.
- Pengaturan suara.
- Berbicara dari hati

Semoga Bermanfaat.


Read more...

KIAT-KIAT AGAR TERHINDAR DARI MAKSIAT

>> Selasa, 29 Maret 2011

Mungkin kita tidak akan pernah menemukan satu pun di antara makhluk ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang dinamakan ‘manusia’ termasuk kita luput dari melakukan maksiat. Tidak sedikit di antara mereka yang hidupnya penuh dengan maksiat, bahkan ada yang melakukannya setiap saat bak sebuah nikmat (wal ‘iyadzu billah).
Kendati demikian, bukan berarti kita lantas bebas dan semaunya berbuat maksiat, seharusnya kita takut terhadap siksa Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang pedihnya teramat sangat lagi maha dahsyat. Sudah sepatutnya kita sebagai hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang terus-menerus diberikan nikmat untuk selalu berusaha ta’at dan berupaya semaksimal mungkin mencari kiat-kiat agar terhindar dari segala maksiat yang merupakan tipu muslihat para setan yang terlaknat. Di antara kiat-kiat agar kita terhindar dari maksiat adalah sebagai berikut:

Kiat Pertama: Hendaklah seorang hamba mengetahui bahwa maksiat itu adalah perbuatan tercela, buruk dan hina.

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengharamkan dan melarang untuk melakukannya semata-mata untuk menjaga dan melindungi manusia dari kehinaan tersebut, sebagaimana halnya seorang ayah yang penyayang dan penuh perhatian menjaga anaknya dari sesuatu yang membahayakannya. Dan faktor/ kiat ini tentu membawa seorang yang berakal untuk meninggalkan kemaksiatan yang diharamkan Allah Azza Wa Jalla, meskipun tidak disertai dengan ancaman akan siksa Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kiat kedua: Memiliki rasa malu terhadap Allah Azza Wa Jalla.

Sesungguhnya seorang hamba ketika mengetahui bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa melihatnya dan mengetahui kedudukanNYa atas dirinya, dan bahwasanya dirinya selalu diawasi dan (ucapannya selalu) didengar olehNya, maka tentu dia akan merasa malu kepadaNya untuk memperlihatkan atau melakukan perbuatan yang mengundang kemurkaanNya.

Kiat ketiga: Memelihara nikmat-nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan semua kebaikan yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepadamu.

Sesungguhnya tidak diragukan lagi bahwa dosa-dosa merupakan sebab yang dapat menghilangkan nikmat-nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka tidaklah seorang hamba melakukan perbuatan dosa melainkan hilang nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala darinya sebanyak atau sebesar dosa yang dikerjakan. Dan jika dia bertaubat dan kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka kembalilah nikmat tersebut atau yang semisalnya kepadanya. Dan jika dia mengulangi kembali atau terus-menerus melakukan dosa, maka nikmat pun tidak kembali kepadanya. Maka dosa-dosa itu pun senantiasa menghilangkan nikmat demi nikmat sampai semuanya lenyap dan tak tersisa. Sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, artinya, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d: 11).

Dan nikmat yang paling agung adalah nikmat iman, sedang dosa berzina, mencuri, minum khamer, dan mengambil hak/ harta orang lain dapat menghilangkan dan melenyapkannya. Sebagian salaf berkata, “Aku pernah melakukan dosa, dan aku pun diharamkan (terhalang) untuk melakukan shalat sunnah di waktu malam.” Dan yang lainnya berkata, “Aku pernah melakukan dosa, maka aku pun diharamkan (sulit) untuk memahami al-Qur`an.” Dan perkataan yang senada dengan ini, “Jika engkau mendapatkan kenikmatan, maka peliharalah ia, karena sesungguhnya kemaksiatan menghilangkan kenikmatan.”

Kesimpulannya sesungguhnya kemaksiatan adalah api yang membakar kenikmatan seperti api yang memakan kayu. Na’udzu billah dari kehilangan nikmat dan ampunanNya.

Kiat keempat: Takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan adzabNya.

Sesungguhnya hal ini hanyalah bagi orang yang beriman terhadap janji dan ancaman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan beriman denganNya, kitabNya, dan RasulNya. Dan kiat/ faktor ini menjadi kuat dengan ilmu dan keyakinan dan menjadi lemah dengan lemahnya keduanya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, artinya, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. al-Faathir: 28).
Dan sebagian salaf berkata, “Cukuplah dengan ilmu, membuat (seseorang) takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan cukuplah dengan kebodohan, membuat (seseorang) lalai mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

Kiat kelima: Mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dan inilah adalah kiat/ faktor yang paling kuat untuk melatih sabar untuk tidak menentang dan mendurhakaiNya. Karena sesungguhnya orang yang mencintai pasti patuh dan taat kepada siapa yang dicintainya.

Kiat keenam: Menjaga kehormatan diri, kesuciannya, keutamaannya, semangatnya, dan wibawanya, dari melakukan kemaksiatan.

Kiat ketujuh: Mengetahui dengan benar akan dampak buruk kemaksiatan, dan bahaya yang ditimbulkan olehnya.

Seperti: berupa wajah yang hitam, membuat hati menjadi gelap, sempit, gelisah, sedih dan sakit, menyesakkan dada, merusaknya, dan lemahnya hati untuk melawan musuhnya. Karena sesungguhnya dosa mematikan hati. Dan seorang hamba, apabila berbuat dosa, maka diletakkan titik hitam di dalam hatinya, jika dia bertaubat darinya, maka bersinarlah hatinya. Dan apabila berbuat dosa yang lain, diletakkan kembali titik/ noda hitam lainnya, dan terus menerus (titik hitam itu menodai hatinya, pen.) sampai hatinya menjadi sombong, maka itulah hati yang telah tertutup. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, artinya, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (QS. al-Muthaffifin: 14).

Kesimpulannya adalah bahwa dampak-dampak buruk maksiat lebih banyak dari apa yang diketahui oleh seorang hamba, dan dampak-dampak baik ketaatan lebih banyak dari apa yang diketahui olehnya. Maka kebaikan dunia dan akhirat adalah dengan bersungguh-sungguh dalam mentaati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sedangkan keburukan dunia dan akhirat adalah dengan bersungguh-sungguh dalam bermaksiat kepadaNya. Dalam hadits qudsi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Siapakah orang yang mentaatiku, lalu dia menjadi sengsara dengan mentaatiku? Dan siapakah orang yang mendurhakaiku, lalu dia menjadi bahagia dengan mendurhakaiku?”

Kiat kedelapan: Pendek angan-angan dan mengetahui betapa cepatnya perpindahannya.

Dan sesungguhnya dia bagaikan seorang musafir yang masuk ke dalam suatu kampung sedangkan dia bertekad bulat untuk keluar darinya, atau bagaikan seorang penunggang yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya, karena dia mengetahui bahwa singgahnya hanya sesaat sedangkan kepergiannya begitu cepat, sehingga mendorongnya untuk meninggalkan sesuatu yang memberatkan bebannya, membahayakan dan tidak bermanfaat baginya. Serta dia pun berkeinginan untuk pindah ke tempat yang lebih baik baginya. Maka tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba dari pendeknya angan-angan dan tidak ada yang lebih mudharat baginya dari “At-Taswif” (menunda-nunda/ucapan, ‘saya akan begini …..saya akan begitu.…’) dan panjang angan-angan.

Kiat kesembilan: Menjauhi (sikap) berlebihan dalam makan, minum, berpakaian, tidur dan berinteraksi dengan manusia.

Sesungguhnya kekuatan yang mendorong untuk berbuat maksiat adalah tumbuh dari hal-hal yang berlebihan tersebut. Sesungguhnya ia menuntut adanya perubahan, mempersempit yang halal dan membawanya kepada yang haram. Dan sesuatu yang paling berbahaya bagi seorang hamba adalah di waktu dia menganggur dan waktu kosongnya. Sesungguhnya jiwa, janganlah berada dalam keadaan kosong, bahkan jika ia tidak disibukkan dengan sesuatu yang bermanfaat baginya, maka ia pasti akan disibukkan dengan sesuatu yang membahayakannya.

Kiat kesepuluh: Inti dari kiat-kiat ini semua adalah tertancapnya pohon iman di dalam hati.

Kesabaran seorang hamba untuk tidak melakukan maksiat sesungguhnya terletak pada besarnya kadar kekuatan imannya. Setiap kali imannya bertambah kuat, maka semakin sempurnalah kesabarannya. Sedangkan jika imannya lemah, maka lemahlah kesabaran tersebut. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menentukan siapa yang dikehendakiNya (untuk diberi) rahmatNya; dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mempunyai karunia yang besar. (Abu Nabiel/alsofwah)

Sumber: Diterjemahkan dari kitab, “An-Nuqath al-’Asyru adz-Dzahabiyah”, karya: Syaikh Abdur Rahman bin Ali ad-Dausary.

Read more...

SEPULUH KIAT MENGGAPAI CINTA ALLAH

>> Rabu, 23 Maret 2011

Membaca Al Qur'an.. [Kiat Menggapai Cinta Allah 1/10]..

Membaca Al-Qur’an dengan benar, tadabbur [panghayatan] dan memahami serta mengamalkannya dengan baik.

Mengerjakan Amalan Sunnah.. [Kiat Menggapai Cinta Allah 2/10]..

Mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah setelah menyempurnakan amalan-amalan wajib.
Banyak Berdzikir Kepada Allah..

[Kiat Menggapai Cinta Allah 3/10]..

Selalu dzikirullah [mengingat dan menyebut nama Allah] dalam segala situasi dan kondisi dengan hati, lisan dan perbuatan.

Memenangkan Yang Dicintai Allah.. [Kiat Menggapai Cinta Allah 4/10]..

Mengutamakan kehendak dan apa yang dicintai Allah di saat berbenturan dengan kehendak dan apa yang disukai hawa nafsu.


Memahami Nama-Nama Dan Sifat-Sifat Allah.. [Kiat Menggapai Cinta Allah 5/10]..

Menanamkan dalam hati nama-nama dan sifat-sifat Allah dengan memahami maknanya.
Siapa saja yang mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifatNya pasti mencintaiNya.

Merenungkan Nikmat Allah.. [Kiat Menggapai Cinta Allah 6/10]..

Memperhatikan, merenungkan dan selalu menghitung-hitung karunia, kebaikan dan nikmat Allah kepada kita yang tampak dan yang tidak tampak, lahir dan batin.

Menundukkan Hati Secara Total.. [Kiat Menggapai Cinta Allah 7/10]..

Menundukkan hati dan menghinakan diri secara total di hadapan Allah.
Allah bersama orang-orang yang hati dan dirinya hanya tertuju kepadaNya.

Shalat Tahajjud.. [Kiat Menggapai Cinta Allah 8/10]..

Menyendiri untuk beribadah kepada Allah di waktu malam saat orang lelap tidur, bermunajat dan membaca kitab suciNya kemudian ditutup dengan memperbanyak istighfar.

Bergaul Dengan Orang Sholeh.. [Kiat Menggapai Cinta Allah 9/10]..

Bergaul dan berkumpul bersama orang-orang sholeh yang mencintai Allah dengan sejujurnya, mengambil hikmah dan ilmu dari mereka seperti memetik buah-buahan yang baik.

Menjauhi Segala Penghalang.. [Kiat Menggapai Cinta Allah 10/10]..

Menjauhi semua sebab yang dapat menjauhkan dan menghalangi hati dari Allah.

Selamat Menikmati Cinta Allah!

Read more...

Waspada Virus Valentine !!!

>> Minggu, 06 Februari 2011



Valentine’s Day adalah perayaan resmi Nasrani dan ummat Islam dilarang ikut-ikutan merayakan, ini adalah wilayah aqidah yang kita harus tegas dan tidak mencampuradukkan antara hak dan batil.

Dalam The Catholic Encyclopedia, Vol. XV sub judul; Santo Valentino, diurai tentang sejarah Valentino. Sumber ini setidaknya menampilkan kisah Valentino dalam 3 versi. Inti dari semuanya adalah bahwasanya hari Valentine adalah untuk mengenang Pendeta St. Valentine yang hidup di akhir abad ke 3 M di zaman Raja Romawi Claudius II. Pada tanggal 14 Februari 269 / 270 M Claudius II menghukum mati St.Valentine yang telah menentang beberapa perintahnya.

Dalam The Encyclopedia Britania, Vol XII, sub judul: Chistianity, dijelaskan bahwa untuk lebih mendekatkan ke dalam agama Kristen, pada 496 M Paus Glasisus I menjadikan kisah ini menjadi perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati Pendeta St. Valentine yang dieksekusi pada tangal 14 Februari (The World Encylopedia 1998).

Semangat Valentine adalah Semangat Berzina dan Pelecehan Kaum Perempuan

Ritus hari Valentine’s yang mengusung panji percintaan dan kasih sayang, diperingati dengan berbagai cara. Ada yang mengekspresikannya dalam bentuk memakai pakaian dan apa saja yang berwarna pink. Pengiriman kartu yang kadang-kadang disertai dengan hadiah yang sarat dengan simbol LOVE. Namun ada yang merayakan dengan menggelar pesta makan, minum yang diiringi musik dansa yang dinyanyikan secara berpasangan. Bahkan diakhiri hubungan seks alias berzina.

Jadi, hari Valentine lebih tepat disebut dengan HARI PELECEHAN KEHORMATAN.

Hukum Merayakan Valentine

Allah Ta’aala berfirman:
Katakanlah: “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6).

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wasallam bersabda,
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Daud dll).

Para Ulama Rahimahumullah mengatakan bahwa ikut-ikutan dalam merayakan Valentine atau perayaan-perayaan non muslim lainnya hukumnya adalah haram, bahkan lebih haram dan lebih besar dosanya daripada meminum khamer atau narkoba, berzina, berjudi dan dosa-dosa besar lainnya, karena dosa ikut serta dalam perayaan non muslim mengandung unsur syirik dan kufur, yaitu ikut merestui kekufuran dan kesyirikan.

Hari Kasih Sayang Dalam Islam

Islam adalah agama kasih sayang, yaitu kasih sayang yang benar dan bukan pelecehan kehormatan. Dalam Al-Qur’an banyak disebutkan sifat Allah Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wasallam adalah manusia yang penuh dengan kasih sayang dan mengajarkan kasih sayang.

Beliau bersabda: “Orang-orang yang penyayang pasti disayang oleh Sang Maha Penyayang. Sayangi yang di bumi, pasti yang di langit sayang kepadamu.”
“Siapa yang tidak menyayangi, dia tidak akan di sayangi.”

Jadi, dalam agama Islam setiap hari adalah Hari Kasih Sayang…

Alhamdulillah, aku bangga jadi orang Islam, buat apa meniru-niru yang lain….

Read more...

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Blogger templates Palm by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP