Mengapa Terjadi Kesalahpahaman?… [Renungan Untuk Kita Semua]…

>> Jumat, 20 Mei 2011

Mengapa Terjadi Kesalahpahaman?

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat dan pengikutnya yang setia.
Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang hak kecuali Allah yang Maha Esa tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan RasulNya –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam. Amma ba’du;

Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam telah memberitahukan kepada kita bahwa sepeninggal Beliau akan terjadi perbedaan dan bahkan perpecahan yang sangat banyak…
Apalagi zaman sekarang, lebih banyak lagi fitnah yang timbul…Bahkan sesama teman…Sesama sahabat…Sesama penuntut ilmu syar’i…Sesama da’i…Sesama ulama’…Sesama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah…


Latar belakang perbedaan dan perpecahan serta fitnah itu macam-macam…Bisa jadi karena pemahaman tentang Islam yang sepotong-sepotong dan tidak seutuhnya…Karena kejahilan…Karena kurang ilmu…Karena hawa nafsu…Karena faktor duniawi…Karena beda pendapatan (beda pendapatan, lain dengan beda pendapat)…Karena hasad, iri dan dengki…Karena niat jelek…Karena hati telah rusak…Karena fanatik kepada seseorang…Karena merasa benar sendiri…Karena dada yang sempit…Karena jiwa yang kerdil…Karena faktor kejiwaan…Karena pengalaman masa lalu…Karena masa kecil kurang bahagia…Karena rumah tangga tidak harmonis…Karena pengaruh lingkungan…Karena pengaruh literatur yang dibaca…Karena kekanak-kanakan dan tidak dewasa…Karena emosional…Karena kurang komunikasi…Karena enggan berdiskusi…Karena akhlak dan moral yang buruk…Karena beda daya paham…Karena tekanan…Karena faktor politis…Karena kepentingan…Karena kurang pergaulan…Karena kurang pengalaman…Karena kurang informasi…Karena telat mikir…Karena pandangan pendek…Karena tidak tahu dan tidak mau tahu realita…Karena saingan…Karena tidak mengenal ALLAH dengan sebenarnya…Karena tidak tahu sejarah… Karena untuk menutupi kekurangan diri sendiri…Karena lupa kejelekan diri sendiri sehingga sibuk dengan orang lain…Karena kurang kerjaan…Karena kesulitan hidup…Karena hidup dari konflik dan tidak bisa hidup tanpa ada konflik…Karena diuntungkan oleh konflik…Karena bisnis konflik…Karena pesanan…Karena pengaruh kekuasaan dan penguasa…Karena pengaruh ulama suu’ (ulama jahat)…Karena merasa memiliki kunci surga…Karena…Karena…Karena….Dan lain-lain….Masih banyak faktor-faktor lainnya….

Berhati-hatilah dengan kata-kata yang haq tapi bertujuan batil…Berhati-hatilah dengan mempermainkan Al-Qur’an dan As-Sunnah…Kenalilah ALLAH dengan sebenarnya…Kenalilah ISLAM dengan seutuhnya…Kenalilah NABI MUHAMMAD –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dengan sempurna…Berapa banyak orang yang selalu membawa-bawa Al-Qur’an dan As-Sunnah akan tetapi kehidupan mereka, akhlak mereka dan muamalah mereka jauh dari Al-Qur’an dan As-Sunnah…

Dalam menyikapi seseorang –siapapun orang tersebut- hendaklah kita menimbangnya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah…Jangan terbalik, menimbang Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan ucapan manusia…Jangan mau dibodohi, apalagi seandainya Anda adalah seorang terpelajar…

Imam Malik –Rahimahullah mengatakan: “Semua manusia bisa diambil pendapatnya dan bisa pula ditolak kecuali Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam”

Saudara-saudaraku yang saya cintai karena Allah, mari kita sibukkan diri kita dengan hal-hal yang bermanfaat, membaca Al-Qur’an, Al-Hadits, mempelajari, menghafalkan dan mengamalkan…Kita tiru kehidupan beragama para Sahabat Nabi –Radhiallahu ‘Anhum…Bangun pada malam hari, shalat, berdoa dan bermunajat kepadaNya…Memohon petunjukNya…Menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain…Janganlah kita sibukkan diri kita dengan hal-hal yang tidak bermanfaat yang akan menjadikan penyesalan kita dalam kehidupan dunia dan akhirat…SELAMAT BERKARYA!

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat dan pengikutnya yang setia dan segala puji hanya bagi Allah.

Semoga Bermanfaat dan Mencerahkan.

Read more...

Ramadhan...Bulan Pendidikan Ruhaniah

>> Jumat, 13 Mei 2011

Ramadhan mengantarkan kita lebih dekat kepada Allah. Dengan puasa kita menjadi orang yang paling dicintai Allah. Puasa melatih kita meninggalkan sikap egois kita dan bukan memperkuatnya. Puasa dengan penuh keimanan dan pengharapan, dapat memenuhi kebutuhan spiritual kita.

Sebuah penelitian di Barat menyebutkan bahwa orang yang berpuasa akan lebih tajam pikirannya sehingga mampu menangkap pesan-pesan moral wahyu Ilahi. Orang dewasa adalah orang yang selalu berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan ruhaniahnya, bukan kebutuhan-kebutuhan jasmaniahnya. Itulah orang yang sudah sangat dewasa.

Read more...

Ramadhan...Membuka Lembaran Baru Yang Putih Bersinar...

Ramadhan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dan membuka lembaran baru dalam kehidupan ini...Lembaran yang putih, bersih, jernih, bening, bersinar dan bercahaya...

Bersama Allah...Dengan Taubatan Nasuha dan memperbanyak amal saleh yang ikhlas serta kaaffah (total) dalam berIslam...
Bersama Rasulullah -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam...Dengan semakin berpegang teguh kepada Sunnah Beliau...

Bersama Kedua Orang Tua, Suami, Isteri, Anak-Anak, Karib Kerabat dan Sanak Famili...Dengan menyambung tali silaturrahmi dan berbuat baik kepada mereka...
Bersama Sesama...Dengan menjadikan hidup semakin bermanfaat...

Rasulullah -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam bersabda: "Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain." (Hadis Sahih).

Read more...

Puasa Mempersempit Ruang Gerak Syetan

Lapar dan haus akan mempersempit aliran darah sehingga menjadi sempit pula ruang gerak syetan di tubuh kita karena syetan mengalir di tubuh kita seperti atau bersama aliran darah sebagaimana hal ini telah disabdakan oleh Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dalam hadis sahih Bukhari dan Muslim.


Oleh karena ini pula Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Wahai sekalian pemuda! Siapa yang telah mampu untuk menikah diantara kalian maka hendaklah menikah, karena (pernikahan itu) lebih menjaga pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan. Barang siapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa (shaum), karena hal itu bisa mengurangi syahwat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam hadis tersebut Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam menjadikan berpuasa sebagai sarana untuk mengurangi dan menghancurkan nafsu syahwat.
Inilah rahasia mengapa orang yang berpuasa mudah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Read more...

MENYAMBUT DAN MEMPERSIAPKAN HARI JUM’AT

>> Rabu, 27 April 2011

Allah Ta'aala Berfirman:
"Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."
(Surat 62 Al-Jumu'ah / Hari Jum'at Ayat 9)

Keistimewaan dan Adab Hari Jum’at:

- Hari Jum’at adalah hari paling afdhal dan merupakan hari raya kaum muslimin.
- Allah mengabadikan hari Jum'at dengan memberikan nama pada salah satu surat dalam Al-Qur'an dengan nama surat Al-Jumu'ah.
- Pada shalat Subuh hari Jum’at disunnahkan membaca surat As-Sajdah pada raka’at pertama setelah Al-Fatihah dan surat Al-Insaan pada raka’at kedua setelah Al-Fatihah.
- Nabi Adam –Alaihis Salam diciptakan, dimasukkan dan dikeluarkan dari surga serta diwafatkan pada hari Jum’at.
- Kiamat terjadi pada hari Jum’at.
- Pada hari Jum’at terdapat saat yang mustajab, yaitu doa yang dipanjatkan bertepatan dengan saat itu pasti dikabulkan oleh Allah Ta'aala.
- Memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam pada hari Jum’at dan malam Jum'at.
- Mandi untuk shalat Jum’at.
- Membersihkan diri dengan memotong kumis, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan dan memotong kuku pada hari Jum’at.
- Memakai pakaian terbaik dan parfum untuk shalat Jum’at.
- Dilarang melewati atau melangkahi pundak orang lain dalam masjid karena hal itu termasuk gangguan.
- Segera pergi ke masjid untuk shalat Jum’at dan tidak mengakhirkannya karena Malaikat berada di pintu-pintu masjid untuk mencatat orang-orang yang datang terlebih dahulu hingga khatib naik mimbar.
- Memperbanyak shalat sunnah sambil menunggu khatib naik mimbar.
- Diam dan mendengarkan khotbah.
- Membaca surat Al-Kahfi.
- Allah mengunci mati hati orang-orang yang meninggalkan shalat Jum'at tanpa udzur syar'i dan menjadikan mereka termasuk orang-orang yang lalai.


Tata Cara Khotbah Jum’at:

Khutbah Jum’at ada dua kali dipisahkan dengan duduk diantara keduanya.

Hendaklah Khotbah Jum’at Meliputi Beberapa Perkara Sebagai Berikut:

- Pujian-pujian kepada Allah dan membaca dua kalimat syahadat.
- Shalawat kepada Rasulullah Muhammad –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam.
- Wasiat untuk bertakwa.
- Membaca ayat Al-Qur’an.
- Memberikan nasehat.
- Berdoa untuk kaum muslimin.

Pesan-Pesan Untuk Khatib:

- Niat yang ikhlas.
- Mengenal situasi dan kondisi mad'u (audiens).
- Persiapan yang matang.
- Khotbah tersusun rapi, teratur dan fokus.
- Khotbah tidak terlalu panjang yang membosankan.
- Penampilan yang baik.
- Bahasa tubuh dan ekspresi.
- Pengaturan suara.
- Berbicara dari hati

Semoga Bermanfaat.


Read more...

KIAT-KIAT AGAR TERHINDAR DARI MAKSIAT

>> Selasa, 29 Maret 2011

Mungkin kita tidak akan pernah menemukan satu pun di antara makhluk ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang dinamakan ‘manusia’ termasuk kita luput dari melakukan maksiat. Tidak sedikit di antara mereka yang hidupnya penuh dengan maksiat, bahkan ada yang melakukannya setiap saat bak sebuah nikmat (wal ‘iyadzu billah).
Kendati demikian, bukan berarti kita lantas bebas dan semaunya berbuat maksiat, seharusnya kita takut terhadap siksa Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang pedihnya teramat sangat lagi maha dahsyat. Sudah sepatutnya kita sebagai hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang terus-menerus diberikan nikmat untuk selalu berusaha ta’at dan berupaya semaksimal mungkin mencari kiat-kiat agar terhindar dari segala maksiat yang merupakan tipu muslihat para setan yang terlaknat. Di antara kiat-kiat agar kita terhindar dari maksiat adalah sebagai berikut:

Kiat Pertama: Hendaklah seorang hamba mengetahui bahwa maksiat itu adalah perbuatan tercela, buruk dan hina.

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengharamkan dan melarang untuk melakukannya semata-mata untuk menjaga dan melindungi manusia dari kehinaan tersebut, sebagaimana halnya seorang ayah yang penyayang dan penuh perhatian menjaga anaknya dari sesuatu yang membahayakannya. Dan faktor/ kiat ini tentu membawa seorang yang berakal untuk meninggalkan kemaksiatan yang diharamkan Allah Azza Wa Jalla, meskipun tidak disertai dengan ancaman akan siksa Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kiat kedua: Memiliki rasa malu terhadap Allah Azza Wa Jalla.

Sesungguhnya seorang hamba ketika mengetahui bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa melihatnya dan mengetahui kedudukanNYa atas dirinya, dan bahwasanya dirinya selalu diawasi dan (ucapannya selalu) didengar olehNya, maka tentu dia akan merasa malu kepadaNya untuk memperlihatkan atau melakukan perbuatan yang mengundang kemurkaanNya.

Kiat ketiga: Memelihara nikmat-nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan semua kebaikan yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepadamu.

Sesungguhnya tidak diragukan lagi bahwa dosa-dosa merupakan sebab yang dapat menghilangkan nikmat-nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka tidaklah seorang hamba melakukan perbuatan dosa melainkan hilang nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala darinya sebanyak atau sebesar dosa yang dikerjakan. Dan jika dia bertaubat dan kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka kembalilah nikmat tersebut atau yang semisalnya kepadanya. Dan jika dia mengulangi kembali atau terus-menerus melakukan dosa, maka nikmat pun tidak kembali kepadanya. Maka dosa-dosa itu pun senantiasa menghilangkan nikmat demi nikmat sampai semuanya lenyap dan tak tersisa. Sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, artinya, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d: 11).

Dan nikmat yang paling agung adalah nikmat iman, sedang dosa berzina, mencuri, minum khamer, dan mengambil hak/ harta orang lain dapat menghilangkan dan melenyapkannya. Sebagian salaf berkata, “Aku pernah melakukan dosa, dan aku pun diharamkan (terhalang) untuk melakukan shalat sunnah di waktu malam.” Dan yang lainnya berkata, “Aku pernah melakukan dosa, maka aku pun diharamkan (sulit) untuk memahami al-Qur`an.” Dan perkataan yang senada dengan ini, “Jika engkau mendapatkan kenikmatan, maka peliharalah ia, karena sesungguhnya kemaksiatan menghilangkan kenikmatan.”

Kesimpulannya sesungguhnya kemaksiatan adalah api yang membakar kenikmatan seperti api yang memakan kayu. Na’udzu billah dari kehilangan nikmat dan ampunanNya.

Kiat keempat: Takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan adzabNya.

Sesungguhnya hal ini hanyalah bagi orang yang beriman terhadap janji dan ancaman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan beriman denganNya, kitabNya, dan RasulNya. Dan kiat/ faktor ini menjadi kuat dengan ilmu dan keyakinan dan menjadi lemah dengan lemahnya keduanya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, artinya, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. al-Faathir: 28).
Dan sebagian salaf berkata, “Cukuplah dengan ilmu, membuat (seseorang) takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan cukuplah dengan kebodohan, membuat (seseorang) lalai mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

Kiat kelima: Mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dan inilah adalah kiat/ faktor yang paling kuat untuk melatih sabar untuk tidak menentang dan mendurhakaiNya. Karena sesungguhnya orang yang mencintai pasti patuh dan taat kepada siapa yang dicintainya.

Kiat keenam: Menjaga kehormatan diri, kesuciannya, keutamaannya, semangatnya, dan wibawanya, dari melakukan kemaksiatan.

Kiat ketujuh: Mengetahui dengan benar akan dampak buruk kemaksiatan, dan bahaya yang ditimbulkan olehnya.

Seperti: berupa wajah yang hitam, membuat hati menjadi gelap, sempit, gelisah, sedih dan sakit, menyesakkan dada, merusaknya, dan lemahnya hati untuk melawan musuhnya. Karena sesungguhnya dosa mematikan hati. Dan seorang hamba, apabila berbuat dosa, maka diletakkan titik hitam di dalam hatinya, jika dia bertaubat darinya, maka bersinarlah hatinya. Dan apabila berbuat dosa yang lain, diletakkan kembali titik/ noda hitam lainnya, dan terus menerus (titik hitam itu menodai hatinya, pen.) sampai hatinya menjadi sombong, maka itulah hati yang telah tertutup. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, artinya, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (QS. al-Muthaffifin: 14).

Kesimpulannya adalah bahwa dampak-dampak buruk maksiat lebih banyak dari apa yang diketahui oleh seorang hamba, dan dampak-dampak baik ketaatan lebih banyak dari apa yang diketahui olehnya. Maka kebaikan dunia dan akhirat adalah dengan bersungguh-sungguh dalam mentaati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sedangkan keburukan dunia dan akhirat adalah dengan bersungguh-sungguh dalam bermaksiat kepadaNya. Dalam hadits qudsi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Siapakah orang yang mentaatiku, lalu dia menjadi sengsara dengan mentaatiku? Dan siapakah orang yang mendurhakaiku, lalu dia menjadi bahagia dengan mendurhakaiku?”

Kiat kedelapan: Pendek angan-angan dan mengetahui betapa cepatnya perpindahannya.

Dan sesungguhnya dia bagaikan seorang musafir yang masuk ke dalam suatu kampung sedangkan dia bertekad bulat untuk keluar darinya, atau bagaikan seorang penunggang yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya, karena dia mengetahui bahwa singgahnya hanya sesaat sedangkan kepergiannya begitu cepat, sehingga mendorongnya untuk meninggalkan sesuatu yang memberatkan bebannya, membahayakan dan tidak bermanfaat baginya. Serta dia pun berkeinginan untuk pindah ke tempat yang lebih baik baginya. Maka tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba dari pendeknya angan-angan dan tidak ada yang lebih mudharat baginya dari “At-Taswif” (menunda-nunda/ucapan, ‘saya akan begini …..saya akan begitu.…’) dan panjang angan-angan.

Kiat kesembilan: Menjauhi (sikap) berlebihan dalam makan, minum, berpakaian, tidur dan berinteraksi dengan manusia.

Sesungguhnya kekuatan yang mendorong untuk berbuat maksiat adalah tumbuh dari hal-hal yang berlebihan tersebut. Sesungguhnya ia menuntut adanya perubahan, mempersempit yang halal dan membawanya kepada yang haram. Dan sesuatu yang paling berbahaya bagi seorang hamba adalah di waktu dia menganggur dan waktu kosongnya. Sesungguhnya jiwa, janganlah berada dalam keadaan kosong, bahkan jika ia tidak disibukkan dengan sesuatu yang bermanfaat baginya, maka ia pasti akan disibukkan dengan sesuatu yang membahayakannya.

Kiat kesepuluh: Inti dari kiat-kiat ini semua adalah tertancapnya pohon iman di dalam hati.

Kesabaran seorang hamba untuk tidak melakukan maksiat sesungguhnya terletak pada besarnya kadar kekuatan imannya. Setiap kali imannya bertambah kuat, maka semakin sempurnalah kesabarannya. Sedangkan jika imannya lemah, maka lemahlah kesabaran tersebut. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menentukan siapa yang dikehendakiNya (untuk diberi) rahmatNya; dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mempunyai karunia yang besar. (Abu Nabiel/alsofwah)

Sumber: Diterjemahkan dari kitab, “An-Nuqath al-’Asyru adz-Dzahabiyah”, karya: Syaikh Abdur Rahman bin Ali ad-Dausary.

Read more...

SEPULUH KIAT MENGGAPAI CINTA ALLAH

>> Rabu, 23 Maret 2011

Membaca Al Qur'an.. [Kiat Menggapai Cinta Allah 1/10]..

Membaca Al-Qur’an dengan benar, tadabbur [panghayatan] dan memahami serta mengamalkannya dengan baik.

Mengerjakan Amalan Sunnah.. [Kiat Menggapai Cinta Allah 2/10]..

Mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah setelah menyempurnakan amalan-amalan wajib.
Banyak Berdzikir Kepada Allah..

[Kiat Menggapai Cinta Allah 3/10]..

Selalu dzikirullah [mengingat dan menyebut nama Allah] dalam segala situasi dan kondisi dengan hati, lisan dan perbuatan.

Memenangkan Yang Dicintai Allah.. [Kiat Menggapai Cinta Allah 4/10]..

Mengutamakan kehendak dan apa yang dicintai Allah di saat berbenturan dengan kehendak dan apa yang disukai hawa nafsu.


Memahami Nama-Nama Dan Sifat-Sifat Allah.. [Kiat Menggapai Cinta Allah 5/10]..

Menanamkan dalam hati nama-nama dan sifat-sifat Allah dengan memahami maknanya.
Siapa saja yang mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifatNya pasti mencintaiNya.

Merenungkan Nikmat Allah.. [Kiat Menggapai Cinta Allah 6/10]..

Memperhatikan, merenungkan dan selalu menghitung-hitung karunia, kebaikan dan nikmat Allah kepada kita yang tampak dan yang tidak tampak, lahir dan batin.

Menundukkan Hati Secara Total.. [Kiat Menggapai Cinta Allah 7/10]..

Menundukkan hati dan menghinakan diri secara total di hadapan Allah.
Allah bersama orang-orang yang hati dan dirinya hanya tertuju kepadaNya.

Shalat Tahajjud.. [Kiat Menggapai Cinta Allah 8/10]..

Menyendiri untuk beribadah kepada Allah di waktu malam saat orang lelap tidur, bermunajat dan membaca kitab suciNya kemudian ditutup dengan memperbanyak istighfar.

Bergaul Dengan Orang Sholeh.. [Kiat Menggapai Cinta Allah 9/10]..

Bergaul dan berkumpul bersama orang-orang sholeh yang mencintai Allah dengan sejujurnya, mengambil hikmah dan ilmu dari mereka seperti memetik buah-buahan yang baik.

Menjauhi Segala Penghalang.. [Kiat Menggapai Cinta Allah 10/10]..

Menjauhi semua sebab yang dapat menjauhkan dan menghalangi hati dari Allah.

Selamat Menikmati Cinta Allah!

Read more...

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Blogger templates Palm by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP