Tampilkan postingan dengan label khutbah Jum'at. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label khutbah Jum'at. Tampilkan semua postingan

Puasa dan Tahap-tahap Pertumbuhan Mental

>> Sabtu, 14 Agustus 2010

Ma’asyiral Jum’ah dan Shâimîn Rahjimakumullah
الحمد لله الذ ى ارسل رسوله بالهدى ود ين الحق ليظهره على الدين كله. ارسله بشيرا ونظيرا ودا عيا الى الله با ذنه وسرا جا منيرا. اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له شها دة اعدها للقا ئه ذخرا . واشهد ان محمدا عبده ورسوله ارفع البر ية قد را. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى اله واصحا به ومن تبعهم باحسان الى يوم الد ين وسلم تسليما كثيرا. اما بعد ,أعو ذبالله من الشيطا ن الرجيم بسْمِ اللّهِ الرَّحمْنِ الرَّحيمِ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةُ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرُ لَّهُ وَأَن تَصُومُوا خَيْرُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ أما بعد فيا عباد الله أوصيكنم ونفسى بتقوى الله فقد فاز المتقون

Pada saat Al-Qur’an, memaklumatkan kewajiban puasa kepada orang-orang beriman di dalam surah Al-Baqarah ayat 183, disitu dijelaskan pula atas orang-orang atau umat-umat sebelumnya. Isyarat yang paling jelas dalam kandungan makna ayat tersebut adalah bahwa puasa bukan ibadah ritual yang menjadi ciri khas umat nabi Muhammad SAW belaka, puasa hampir bisa ditemukan di setiap tempat, setiap budaya, setiap umat. Tetapi tentu saja dengan dengan perbedaan tempo dan tata cara. Tetapi dengan maksud dan tujuan yang hampir sama; yaitu membina dan mengarahkan pertumbuhan mental, menapaki jalan-jalan spritual untuk membebaskan jiwa dari jeratan dunia daging.
Maryam misalnya, melakukan puasa bicara di detik-detik menjelang melahirkan anaknya Nabi Isa AS, yang tidak punya ayah. Coba bayangkan seorang wanita belia hamil tanpa suami lalu semua orang menuduhnya dengan kata-kata keji dan nista. Betapa terguncangnya ia secara fisik dan mental pada saat itu. Tetapi puasa memberinya ketenangan bathin sekaligus jalan di saat-saat kritis seperti itu. Ia sukses, Nabiyullah Isa AS akhirnya lahir dengan tanda-tanda kebesaran Allah.


Kebiasaan Maryam akhirnya ditularkan kepada anaknya, Nabiyullah Isa As, berpuasa selama 40 hari saat setan datang menawarkan kepadanya kemasyhuran dan kekuasaan. Ia menolak kekayaan demi mempertahankan kekayaan. Ia menolak kekuasaan agar tetap berkuasa, Ia memilih mengurusi orang lain supaya dirinya tetap terurusi, Ia menghidupkan orang mati agar dirinya tidak mati. Dan memang benar Ia sampai sekarang masih terus hidup, paling tidak di benak kaum Muslim dan Nasrani. Nabiyullah Musa As berpuasa 40 hari ketika berada di gunung Tursina ketika akan menerima kata-kata suci : sepuluh perintah Allah. Sesuatu yang suci hanya akan bisa keluar dari tempat dan sikap yang suci pula dan masih banyak Nabi-nabi yang melakukan puasa sebagai sebuah jalan dalam menggapai keinginan mulia.


Ma’asyiral Jum’ah Rahimakumullah
Puasa tidak hanya pernah dilakukan oleh para Nabi dan Rasul semata, orang Indian misalnya mereka telah lama melakukan puasa sebagai alat penolak bala, kalau mereka ingin menghindarkan kampung halaman dan masyarakatnya dari penyakit, bencana alam dan perang, kepala suku mereka memerintahkan mereka ramai-ramai untuk melakukan puasa. Puasa juga mereka laksanakan untuk sebagai wahana pertobatan atas segala kesalahan yang telah mereka perbuat. Socrates dan muridnya Plato, kedua filsuf ini biasanya berpuasa sepuluh hari untuk meningkatkan kesehatan fisik dan jiwanya. Boleh jadi karena kebiasaannya berpuasa sehingga mereka begitu cerdas dan futuristik.
Hippocrates adalah seorang dokter Yunani yang sangat terkenal pada zamannya. Di zaman ketika farmasi belum semaju seperti sekarang, apa yang paling sering diresepkan kepada pasiennya agar cepat sembuh dan sehat? Jawabannya ternyata puasa. Pendek kata ritual puasa dapat ditemukan pada hampir semua kebudayaan lama. Saat Columbus mendaratkan kapal petualangannya di Benua Amerika, iapun menemukan beberapa suku di Peru yang menjadikan puasa sebagai salah satu dari sekian syarat pengampunan dosa. Bahkan kebiasaan puasa ini bukan hanya kita temukan sebagai sebuah Kredo (Kepercayaan) bagi manusia-entah berdasarkan ajaran agama atau sekedar mitos, tapi juga sebagai naluri yang hidup di beberapa jenis hewan. Ikan Salmon umpamanya, berpuasa beberapa minggu lamanya berenang ke hulu sejauh beberapa mil untuk bertelur. Ratu semut menjalani mogok makan demi menunggui telurnya yang akan menetas. Dan banyak lagi contoh hewan yang memiliki kebiasaaan seperti itu.
Ma’asyiral Jum’ah dan Shâimîn Rahimakumullah
Hal ini semuanya kian memperkuat dugaan bahwa puasa, selain bersifat syar’I (perintah agama) juga bersifat tabi’I (sesuai dengan bawaaan alamiah), insani (sesuai dengan hasrat intelek manusia), dan Jama’i (sesuai dengan hasrat sosial). Maka saat kita menjalankan puasa, selain menggugurkan kewajiban keagamaan kita, kita juga telah mengadaptasikan sifat alamiah dan ritme tubuh kita, sehingga lebih kondusif untuk lebih cerdas, juga berperan serta dalam memperkuat solidaritas sosial dimana kita tinggal, tentu saja dengan catatan puasa itu dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan penghayatan.
Ma’asyiral Jum’ah dan Shâimîn Rahimakumullah
Puasa adalah suatu metode yang berangkat dari asumsi bahwa kebutuhan-kebutuhan manusia itu muncul secara bersamaan dan karenanya harus pula dipenuhi secara simultan. Maka dalam pelaksanaan ibadah puasa, keempat kebutuhan itu terasa diakomodasi secara serempak, yang tadi dikatakan bersifat syar’I, tabi’I, insani dan jama’i. Puasa, dengan demikian dalam dirinya sudah bersifat egaliter. Tanpa memungkiri bahwa perkembangan kualitas mental manusia memang berjenjang, berkembang dari suatu maqam (tahap) ke maqam berikutnya. Tahapan-tahapan seperti ini disebut maqamât. Setiap maqam memiliki keadaannya masing-masing yang disebut hal. Keadaan-keadaan pada masing-masing maqam itulah yang disebut ahwal. Tetapi perjenjangan itu bukan berdasarkan kemampuan material, melainkan berdasarkan nawaitu (niat), mujahadah (perjuangan), dan istiqomah (kesabaran dan konsistensi). Itu sebabnya semua orang, tanpa melihat status sosialnya, bisa menapaki jenjang demi jenjang itu. Karena ketiga syarat tadi (nawaitu, mujahadah, dan istiqomah) bisa dimiliki oleh siapa saja.

Ma’asyiral Jum’ah dan Shâimîn Rahimakumullah
Puasa melatih dan mengajarkan kita untuk bergerak secara simultan dan bergerak dari keadaan yang kurang baik ke keadaan yang lebih baik. Maka kalau kita berpuasa secara benar dan sungguh-sungguh, niscaya kita akan bergerak secara vertikal dari nafs amarah kepada nafs lawwamah lalu ke nafs marhaman sehingga akan mencapai posisi puncak yaitu nafs muthmainnah. Atau kita akan bergerak dari suatu modus kehidupan kepada modus kehidupan berikutnya. Dari modus menang ke modus senang, lalu ke modus aman, hingga ke modus yang lebih tinggi yaitu ketenangan lahir dan batin.
Pada bulan yang penuh hikmah dan kemuliaan ini, sudah seyogyanya kita lebih intensif meningkatkan ibadah kita baik yang mahdoh maupun yang sunnah, paling tidak dengan puasa kita dapat berpindah dari kebiasaan yang kurang baik kepada kebiasaan yang lebih bermanfaat dan membawa kemashlahatan. Manfaatkanlah bulan suci ini dengan sebaik-baiknya karena Allahlah yang langsung menilai dan yang memberikan ganjaran-Nya tanpa perantara, sungguh amat istimewa dan teristimewa kemuliaan dan keutamaan puasa pada bulan ramadhan.
Bagi Nabi, sahabat dan orang-orang shaleh, bulan puasa bukan Cuma sekedar bulan menahan diri untuk tidak makan, tidak minum,tidak campur dengan istri. Hal ini sangat dangkal nilainya, karena puasa adalah menghentikan hasrat yang bertentangan dengan hasrat Ilahi. Inilah sebabnya grafik amalan-amalan Nabi dan para sahabatnya terus menanjak dari hari ke hari pada bulan suci ramadhan: I’tikaf (tinggal di mesjid sambil beribadah), ikat pinggangnya dikencangkan, betisnya bengkak-bengkak, matanya sembab mengingat Sang kekasih. Mereka tidak menyia-nyiakan momen yang sangat berharga dan hanya datang sekali setahun-dan belum tentu ditemui kembali di tahun berikutnya-itu hanya untuk kegiatan yang tidak bersifat substansial. (tidak mensubstansikan kegiatan –yang sebetulnya tidak substansial-dengan melakukan rasionalisasi karena itu namanya mencundangi diri sendiri. Peningkatan kualitas mental dan kedekatan diri kepada Allah, merupakan output dari bulan puasa, kita hendaknya mampu menyemangati, mempengaruhi, dan mewarnai perjalanan hidup kita minimal sebelas bulan berikutnya. Sehingga persis ketika kualitas mental mendekati titik nol kembali, kita telah memasuki upgrading (peningkatan) lagi. Itu target minimalnya. ibarat kalau kita tidak mengisi BBM kendaraan untuk bepergian seharian, maka minimal kita pastikan kendaraan kita sampai pada pom bensin berikutnya, pada saat bahan bakarnya habis.
Ma’asyiral Jum’ah dan Shâimîn Rahimakumullah
Mudah-mudahan kita tergolong hamba Allah yang mukmin sebagaimana yang diserukan dalam surah al-Baqarah ayat 183, yang pantas dan mampu melaksanakan ibadah puasa, tidak hanya pada dataran meramaikan tetapi lebih pada dataran menghidupkan bulan suci ini, sehingga puasa kita tidak hanya berakhir dengan takbiran dan shalat ‘ied saja, atau berakhir dengan pulang kampung semata, atau eforia sebentar kemudian kembali kepada kebiasaan jelek semula, akan tetapi dapat menjadi hamba Allah yang senantiasa terus istiqomah dan konsisten dalam menjalankan syariat Allah pada sebelas bulan berikutnya. Amin.
بَارَكَ اللّهُ لِى وَ لَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِ يَّا كُمْ ِبمَا فِيْهِ مِنَ الآ يآتِ وَالذِّكْر الحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلآوَتَهُ إِ َنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلَعلِيمُ,أَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَأَسْتَغْفِرُاللهَ العَظِيْمِ لِى وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الُمْسلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Read more...

Sosok Pemimpin Ideal Dalam Pandangan Islam

>> Senin, 25 Mei 2009

الحمد لله الذ ى ارسل رسوله بالهدى ود ين الحق ليظهره على الدين كله. ارسله بشيرا ونظيرا ودا عيا الى الله با ذنه وسرا جا منيرا. اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له شها دة اعدها للقا ئه ذخرا . واشهد ان محمدا عبده ورسوله ارفع البر ية قد را. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى اله واصحا به ومن تبعهم باحسان الى يوم الد ين وسلم تسليما كثيرا. اما بعد ,أعو ذبالله من الشيطا ن الرجيم بسْمِ اللّهِ الرَّحمْنِ الرَّحيمِ وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَآ إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلاَةِ وَإِيتَآءِ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ أمّا بعد فيا عباد الله أوصيكنم ونفسى بتقوى الله فقد فاز المتقون
Hadirin Sidang Jum’at Rahimakumullah.

Masyarakat Indonesia tidak lama lagi akan melaksanakan PEMILU sebagai sebuah perwujudan demokrasi politik yang telah menjadi sebuah agenda rutin lima tahunan di negeri kita tercinta ini. Pesta Demokrasi kali ini , sangatlah berbeda dengan yang pernah terjadi sebelumnya, dalam artian ini merupakan momentum awal peletakkan pondasi demokrasi dalam berpolitik kearah yang lebih baik dari yang sebelumya. Indikator ini terlihat dari kinerja KPU yang berusaha menciptakan regulasi atau sebuah aturan yang mengakomodir serta menginventarisasi keinginan seluruh anak bangsa yang terwakili dalam wadah partai politik.


Hadirin Sidang Jum’at yang dimuliakan Allah

PEMILU pada kali ini akan dilakukan dalam tiga tahapan pemilihan , akhir dari proses ini tentunya akan menghasilkan para legislatif, presiden dan wakilnya. Tentunya ini semua berdasarkan hasil pemilihan oleh masyarakat, secara langsung, oleh sebab itu masyarakat sudah seharusnya dan sepantasnya mengetahui terlebih dahulu tokoh yang akan menjadi wakil atau pimpinan mereka nantinya, baik itu moralitas, ucapan dan janji-janjinya, jangan sampai salah pilih lagi, karena merekalah nantinya yang akan mengembalikan kehormatan dan martabat bangsa ini ke arah yang lebih mulia, menenteramkan, serta memberikan kemakmuran dan keadilan bagi seluruh anak bangsa. Paling tidak kita dapat memilih pemimpin yang dapat mengembalikan pondasi awal yang kokoh dalam penegakan hukum yang tegas atau low inforcement serta amanah dalam mengemban tugas mulia ini. Sebagaimana diungkapkan dalam Firman Allah dalam surah an-Nisa’ ( Q 4; 58) Yang artinya:
“ Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah-amanah
kepada yang berhak menerimanya “

Ayat diatas menyebutkan kata jama’ “ amanah-amanah,” artinya banyak sekali amanat yang kita terima sebagai khalifatullah fil arldh, apalagi bagi seorang pemimpin yang terpilih diantara sesama manusia, tentunya ia lebih banyak mengemban amanah sebagai konsekwensi pribadinya menerima pemilihan itu. Memimpin merupakan tugas seorang pemimpin, dalam kamus besar bahasa Indonesia, memimpin diartikan dengan menuntun atau menunjukkan jalan, ibarat memegang tangan seseorang sambil sambil berjalan. Dalam al-Qur’an kata yang memiliki arti pemimpin adalah imâm. Menurut raghîb al-Ishfahâni, imâm berarti orang yang diikuti dengan segala aspeknya, baik itu dalam kebenaran maupun dalam kebathilan. Dengan demikian seorang pemimpin dapat berkonotasi ganda, yaitu sebagai penuntun kearah positif ( baik) atau malah sebaliknya, kearah yang tidak baik atau negatif.
Ma’asyiral Muslimin Yang Terhormat

Di dalam al-Qur’ân lafaz Imâm terulang sebanyak 12 kali, 7 kali dalam bentuk tunggal 5 kali dalam bentuk jama’ dalam konteks yang berbeda-beda, seperti dalam Surah Yasîn; 12 lafaz imâm= Kitab ; Lauh Mahfuz). Berkaitan dengan konteks diatas, lafaz imâm sebagai teladan dalam kebaikan terdapat dalam surah al-Baqarah ; 124 ; al-Anbiyâ’ ;73, al-Furqôn ;74, al-Qashâs ; 5, al-Sajadah; 24. Sedangkan dalam QS : al-Taubah; 12, alQashâs ;41, mengenai pemimpin yang mengajak kepada kejahatan. Dan 1 kali tentang setiap ummat memiliki pemimpin yang bersifat baik maupun buruk QS: al-Isrâ’ ;71).
Hadirin Sidang Jum’at yang dicintai Allah
Menarik untuk diperhatikan, seluruh ayat yang berkaitan dengan pemimpin diatas, menggunakan kata ganti orang pertama ; jama’, kecuali QS ; al-Baqarah ;124, menggunakan orang pertama tunggal, dan al-Furqan ; 74 terkait dengan do’a. hal ini selain menunjukkan adanya keterlibatan pihak lain ( manusia ) selain Allah swt, dalam prosesi mengangkat / memilih pemimpin, juga menandaskan bahwa masalah memilih atau mengangkat pemimpin merupakan urusan manusia dan untuk kemashlahatan mereka. Karena itu Allah hanya memberikan rambu-rambu tertentu untuk memilih pemimpin yang berwibawa dan dapat diandalkan. Sedangkan manusialah yang terlibat langsung dalam masalah ini. Dengan demikian, pemimpin dari hasil pilihan manusia dapat saja baik atau sebaliknya buruk. Kondisi ini jelas berbeda dengan prosesi pengangkatan Nabi Ibrahim as, sebagai panutan ummat (Imam), karena yang akan dijadikan panutan adalah seorang Nabi, maka QS; al-Baqarah ;124, merujuk kata ganti tunggal yaitu Allah swt (innî jâ’iluka) yang berarti otoritas penuh mengangkat manusia pilihan.
Dari petunjuk ayat-ayat suci diatas, dapat ditemukan beberapa kriteria yang mesti dimiliki oleh seorang calon pemimpin. Siapakah mereka yang layak disebut sebagai pemimpin ideal dalam pandangan al- Qur’ân ?. Penggalan lafadz ibtalâ menjelaskan bahwa pemimpin harus teruji terlebih dahulu. Baik itu menyangkut kesehatan fisiknya, intelektual maupun moralnya. Akan tetapi yang terpenting adalah kemampuan mengerjakan atau menyelesaikan masalah yang ada serta dapat memberikan solusi yang lebih memperioritaskan maslahah sebagaimana isyarat yang tertuang dalam lafadz faatammahunna yang akar katanya tamma.
Syarat lainnya, sekaligus realisasi dari terujinya moral pemimpin adalah kepatuhannya dalam menjalankan perintah agama (QS : al- Anbiyâ; 73) karena itu Nabi Muhammad SAW mewasiatkan agar tetap patuh; tidak memberontak kepada pemimpin selama dia masih mengerjakan shalat, walau kita membenci atau bahkan melaknatnya (HR Muslim). Sekalipun demikian pemimpin yang ideal tentu yang tidak dibenci apalagi dilaknat oleh masyarakatnya, akan tetapi berpihak kepada wong cilik (Mustad ‘afîn, renungkan QS: al- Qashas; 5) tidak hanya sebagai lipstik selain itu, sabar seperti dalam Surah (al- Sajadah; 24). Merupakan kriteria berikutnya bagi pemimpin yang ideal. Sabar bukan hanya dalam menghadapi cobaan dengan peristiwa maupun fenomena yang terjadi dalam negerinya, tetapi juga dalam melaksanakan atau mengakkan supremasi hukum tanpa pandang bulu tak takut terhadap ancaman pihak tertentu.
Hadirin Sidang Jum’at Yang Dimuliakan Allâh
Menegakkan kebenaran dan keadilan bukanlah sesuatu hal yang gampang seperti membalik telapak tangan, sebab itu dapat dipahami kenapa pemimpin yang adil merupakan yang pertama-tama dari tujuh golongan yang akan mendapat jaminan perlindungan dari Allah SWT di akhirat nanti (Hadits Muttafaq `alaih). Dari sekian kriteria yang dikemukakan, dalam al-Qur’ân terdapat dua kriteria yang menurut analisa Quraih Shihab merupakan kriteria pokok yang mesti disandang oleh seorang pemimpin. Kedua hal itu hendaklah diperhatikan dalam memilih pemimpin. Kriteria yang dimaksud adalah kuat dan amanah seperti yang termaktub dalam Surah al-Qashas ; 26 , pengangkatan Yusuf as sebagai kepala logisitik kerajaan Mesir juga berkaitan dengan dua sifat ini sebagaimana yang termaktub dalam (QS; Yusuf; 54 ). Oleh karena itu Nabi Saw menasehati Abu Dzar untuk tidak menerima jabatan pemimpin karena lemah ( HR. Muslim). Tentu tidaklah mudah menemukan orang yang memiliki dua kriteria ini sekaligus, akan tetapi apabila kita perhatikan para kandidat legislatif dan eksekutif yang sering tampil di media masa maka dua kriteria tersebut masih banyak terdapat pada kriteria mereka walaupun sebagian besar telah mempunyai catatan hitam di masa lalu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Kita diwariskan oleh baginda Rasulullah Saw, dengan dua pegangan yaitu al-Qur’an dan Hadits, oleh sebab itu apabila mendapatkan permasalahan-permasalahan dalam hidup, maka jangan jangan ragu untuk merujuk kembali kepada kedua warisan berharga ini. Sebagaimana kita ketahui bersama pada akhir-akhir ini, berapa banyak pemimpin-pemimpin negeri tercinta ini yang terpilih tetapi mempunyai sifat yang tidak terpuji dan tercela diantaranya adalah sifat munafik, sifat munafik ini merusak amanat , dan amanat adalah salah satu kriteria yang paling fundamental yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Akibat sifat kemunafikan itu, banyak terjadi penghianatan terhadap amanah, banyak program terbengkalai, banyak rakyat dikecewakan dan dirugikan, serta kekayaan negarapun diselewengkan. Janji-janji mereka yang ingin memberantas KKN ternyata hanya tipuan dan pemanis mulut semata, hukum tajam kebawah tumpul keatas, penegakan hukum tegas dan keras bagi rakyat kecil, tetapi lemah dan berbelit-belit bagi kalangan berduit dan yang memegang jabatan. Ini tidak lain dan tidak bukan diakibatkan oleh sifat munafik yang melekat pada diri mereka, kemunafikan merupakan sikap atau perbuatan yang bertentangan antara lahir dan batin; lahirnya baik, tetapi batinnya jahat; mulutnya manis, tetapi hatinya pahit, mulutnya mengatakan kawan, tetapi dalam hatinya sesungguhnya musuh bebuyutan. Rasulullah Saw bersabda:
“ Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; apabila ia berkata ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan jika dipercaya ia berkhianat”

Ma’asyiral Muslimin Yang Dimuliakan Allah
Pemilihan Umum kali ini merupakan kesempatan emas bagi kita untuk ekstra hati-hati memilih pemimpin yang akan memimpin negara tercinta ini. Pilihlah pemimpin yang bersifat amanah dan tegas dalam menegakkan keadilan dan kebenaran, lihatlah track record mereka di masa lalu, jangan sampai tergoda dengan janji manis yang tak pernah terpenuhi, kita diberikan akal dan wahyu sebagai cahaaya yang dapat menyinari kita dalam kegelapan kehidupan, pergunakanlah secara proporsional dan bijaksana, semoga pemimpin yang kita pilih dapat mengemban amanat ummat, jadi dalam pilpres 2009 ini kita pilih pemimpin yang kalua kita timbang lebih banyak kebaikannya daripada keburukannya, sehingga apa yang kita lakukan punya nilai positif dalam meletakkan pondasi awal demi mencapai sebuah negara yang diberkahi dan diridhoi Allah Swt, Amin.

جَعَلَنَااللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ المُخْلِصِيْنَ, وَأَدْخَلَنَا مِنْ عِبَادِهِ المُتَّقِيْنَ,وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ
خَيْرُ الَّراحِمِيْنَ.

Read more...

Perilaku Konsumtif Dalam Perspektif Islam

>> Rabu, 13 Mei 2009

الحمد لله الذ ى ارسل رسوله بالهدى ود ين الحق ليظهره على الدين كله. ارسله بشيرا ونظيرا ودا عيا الى الله با ذنه وسرا جا منيرا. اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له شها دة اعدها للقا ئه ذخرا . واشهد ان محمدا عبده ورسوله ارفع البر ية قد را. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى اله واصحا به ومن تبعهم باحسان الى يوم الد ين وسلم تسليما كثيرا. اما بعد ,أعو ذبالله من الشيطا ن الرجيم بسْمِ اللّهِ الرَّحمْنِ الرَّحيمِ وَالَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًأما بعد فيا عباد الله أوصيكنم ونفسى بتقوى الله فقد فاز المتقون
Ma’asyira l-muslimîn rahimakumullâh
Dalam kesempatan yang penuh berkah dan mulia ini, marilah kita meningkatkan kualitas taqwa kita kepada Allah SWT.. dengan cara menjaganya dan senantiasa terus meningkatkannya.....semoga hidup kita yang fana ini tidak berlalu dengan sia-sia dan semoga kita dapat memberikan manfaat kepada sesama ummat di bumi ini. Sepantasnyalah kita sebagai hamba Allah yang diutus menjadi khalifah diatas bumi ini, mengucapkan syukur yang tak terhingga, baik secara lisan maupun secara amaliah, dalam bentuk melaksanakan semaksimal mungkin perintah-Nya dan berusaha sekuat tenaga menjauhi serta meninggalkan larangan-Nya.
Shalawatuwassalamah tidak lupa kita persembahkan kepada junjungan Kita Nabi besar Muhammad Saw., Asyroful Anbiyâ yang telah menyelamatkan kita dari jurang kehinaan dan kejahiliyahan.

Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah.
Trend global yang sudah mewabah di tengah-tengah masyarakat kita....dengan berkembang pesatnya bangunan-bangunan megah, mall-mall yang tersebar merata di kota, tempat-tempat hiburan yang menggiurkan serta melenakan kita, perkembangan tekhnologi yang semakin canggih, memberikan pengaruh terhadap perilaku kehidupan kita yang sudah semakin tidak terarah dan parah. Perilaku konsumtif, hedonis dan materialistis sudah menjadi tabiat manusia saat ini. Para Koruptor bebas berkeliaran, low imporcement hanya berlaku bagi kalangan yang lemah yang tidak mempunyai kekuatan, kesenjangan kehidupan antara si kaya dan miskin semakin lebar, manusia sudah semakin tak terkendali, nafsu senantiasa menguasai tindak dan perilaku. Inilah sebuah realitas yang sering terlihat dalam kehidupan kita sekarang ini, masihkah ummat Islam khususnya, ingat akan hari akhir? Dimana tidak ada yang kita bawa kecuali amal dan taqwa semata, Sedangkan amal dan taqwa hanya bisa kita raih dengan menjalankan aturan-aturan Islam secara kâffah (menyeluruh) dan semua perbuatan manusia itu akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak....
Ma’asyira l-muslimîn rahimakumullâh
Perilaku konsumtif manusia akhir-akhir ini menjadi lepas kendali....dalam kehidupannya sehari-hari menjadi boros........
Sebagai agama yang sempurna, Islam telah memberikan rambu-rambu berupa batasan-batasan serta arahan-arahan positif dalam berkonsumsi. Setidaknya terdapat dua batasan dalam hal ini: Pertama, pembatasan dalam hal sifat dan cara. Seorang muslim mesti sensitif terhadap sesuatu yang dilarang oleh Islam. Mengkonsumsi produk-produk yang jelas keharamannya harus dihindari, seperti khamr, daging babi, bertransaksi investasi dengan jalan riba dan lain-lain. Seorang muslim haruslah senantiasa mengkonsumsi sesuatu yang pasti membawa manfaat dan mashlahat, sehingga jauh dari kesia-siaan. Karena kesia-siaan adalah kemubadziran, dan hal itu dilarang dalam Islam seperti termaktub dalam Al-Qur’an (QS. 17 : 27)
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينَ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya. (QS. A l - I s r â ' [17]:27)
Kedua, pembatasan dalam hal kuantitas atau ukuran konsumsi. Islam melarang umatnya berlaku kikir yakni terlalu menahan-nahan harta yang dikaruniakan oleh Allah Swt., kepada mereka. Namun Allah Swt., juga tidak menghendaki umatnya membelanjakan harta mereka secara berlebih-lebihan di luar kewajaran
Firman Allah swt., (QS. 25 : 67),
وَالَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
(QS.Al-Furqon [25]: 67)
Kemudian dalam surah Al-Maidah : 87.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَآأَحَلَّ اللهُ لَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُوا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ {87}
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. 5:87)
Dalam mengkonsumsi, Islam sangat menekankan kewajaran dari segi jumlah, yakni sesuai dengan kebutuhan. Dalam bahasa yang indah Al-Quran mengungkapkan
وَلاَتَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلاَتَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا
Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenngu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (QS. 17:29)


Adapun arahan islam dalam berkonsumsi paling tidak ada tiga hal. Pertama, jangan boros. Seorang muslim dituntut untuk selektif dalam membelanjakan hartanya. Tidak semua hal yang dianggap butuh saat ini harus segera dibeli. Karena sifat dari kebutuhan sesungguhnya dinamis, ia dipengaruhi oleh situasi dan kondisi. Seorang pemasar sangat pandai mengeksploitasi rasa butuh seseorang, sehingga suatu barang yang sebenarnya secara riil tidak dibutuhkan tiba-tiba menjadi barang yang seolah sangat dibutuhkan. Contoh sederhana air mineral. Dahulu orang tidak terlalu membutuhkannya. Namun karena perusahaan rajin “memprovokasi” pasar, kini hampir di setiap rumah kita ada air mineral.

Kedua, seimbangkan pengeluaran dan pemasukan. Seorang muslim hendaknya mampu menyeimbangkan antara pemasukan dan pengeluarannya, sehingga sedapat mungkin tidak berhutang. Karena hutang, menurut Rasulullah SAW akan melahirkan keresahan di malam hari dan mendatangkan kehinaan di siang hari. Ketika kita tidak memiliki daya beli, kita dituntut untuk lebih selektif lagi dalam memilih, tidak malah memaksakan diri sehingga terpaksa harus berhutang. Hal ini tentu bertentangan dengan perilaku produktif. Kita telah merasakan: keresahan, kehinaan, serta kehilangan kemerdekaan sebagai satu bangsa akibat jerathutang.
Ketiga, tidak bermewah-mewahan. Islam juga melarang umatnya hidup dalam kemewahan sebagaimana di sebutkan dalam (QS. Al-Waqi’ah : 41-46) yang artinya:
Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu. Dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air yang panas yang mendidih,dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan.
Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah. Dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa yang besar.
Ma’asyira l-muslimîn rahimakumullâh
Kemewahan yang dimaksud disini adalah tenggelam dalam kenikmatan hidup berlebih-lebihan dengan berbagai sarana yang serba menyenangkan. Serta lupa untuk berbagi terhadap kaum miskin dan du’afa yakni kaum yang terlantar.
Perilaku konsumtif, sesuai dengan arahan Islam di atas menjadi lebih terasa urgensinya pada kehidupan kita saat ini. Krisis ekonomi yang masih belum reda bertemu dengan harga-harga yang melambung tinggi selama ini, menuntut kita untuk selektif dalam berbelanja. Islam tidak melegitimasi momen apapun yang boleh digunakan untuk mengkonsumsi secara berlebihan apalagi di luar batas kemampuan, termasuk dalam memperingati hari raya dan hari besar Islam lainnya. Rasulullah sendiri pun hidupnya senantiasa dalam kesederhanaan. Secara tidak langsung Rasulullah memberikan suri tauladan kepada umatnya untuk hidup sederhana.
Dalam riwayat, Khalifah Umar bin Khattab pernah melarang konsumsi daging yang berlebih, karena persediaan daging tidak mencukupi semua orang di Madinah. Demikian pula terjadi pada zaman Nabi Yusuf, ketika terjadi swasembada selama tujuh tahun, masyarakat tidak diperkenankan mengkonsumsi secara berlebihan sebagimana disebutkan dalam(Qsurah Yusuf:47-48). Yang artinya:
Yusuf berkata:"Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya)sebagaimana biasa: maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. (QS. 12:47)
Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari bibit gandum yang akan kamu simpan. (QS. 12:48)
Pembatasan konsumsi di masa krisis dan penghematan.....sesungguhnya dapat menjaga stabilitas sosial serta menjamin terpenuhinya rasa keadilan,
Mudah-mudahan Khutbah yang singkat ini dapat bermanfaat bagi kita bersama.........Amin ya rabbal alamin...........

Read more...

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Blogger templates Palm by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP